(Ketika) Freud (masuk) dalam Tradisi Filsafat Barat[1]

Dialektika Pencerahan merupakan buku yang ditulis oleh Adorno dan Horkheimer dan dimaksudkan sebagai usaha memahami – terutama peristiwa Holocaust – kekejaman (barbarism) dan penindasan terhadap umat manusia. Bagi Adorno dan Horkheimer, peristiwa tersebut pada dasarnya menunjukkan secara telak kemunduran filsafat. Mereka berdua menyebutnya sebagai Mitifikasi Filsafat. Bagaimana mereka berdua bisa sampai pada kesimpulan demikian? Salah satu gagasan yang diambilalih dan diaplikasikan dalam pmikiran mereka adalah pemikiran Freud tentang Subjektivitas, terutama menyangkut apa yang disebut Kedewasaan (MATURITY) dan bagaimana kemudian Rasionalitas itu dilihat. Gagasan Freud inilah yang menjadi kunci untuk menyibak tabir kegagalan Pencerahan (sekaligus Filsafat itu sendiri).

Untuk menyatakan kegagalan itu, hal pertama yang harus dianalisa adalah apa tujuan dari pencerahan. Sebagaimana telah disinggung di atas, tujuan utama Pencerahan – seperti dilihat Kant – adalah bahwa manusia harus menjadi tuan atas tindakan dan hidupnya. Manusia harus mandiri dalam pengetahuan. Manusia harus bersandar pada potensi yang dimilikinya, yakni Akal Budi (Rasionalitas). Dalam bahasa psikologi, ini dikenal sebagai ‘kedewasaan’. Akan tetapi, apa yang ditunjukkan Pencerahan justru adalah ketidakdewasaan. Puncak (negasi) Pencerahan – yang terekam dalam peristiwa NAZI – justru titik balik kembali ke pemikiran mitos. Lho, kok bisa? Adorno dan Horkheimer menjelaskan hal ini dari cerita Odysseus yang dianalisa melalui perspektif Freud.

Sebagaimana yang sering diceritakan, setelah perang Troya, Odysseus bersama pasukannya hendak pulang ke tanah kelahirannya. Tapi, perjalanan pulang ini tidaklah mudah. Mengapa? Karena kemarahan para dewa di mana Odysseus (dan pasukan Yunani) bukan saja menghancurkan kota, tapi juga kuil para dewa. Tindakan ini, bagi Adorno dan Horkheimer, merusak hukum keseimbangan yang berlaku dalam pemikiran mitologis. Hukum Keseimbangan (Law of Equivalence) adalah prinsip utama dalam keselarasan manusia dengan dewa/i serta alam tempat manusia hidup. Apa akibatnya ketika hukum keseimbangan ini rusak?

Bagi Adorno dah Horkheimer, rusaknya hukum keseimbangan ini menandakan kemunculan bentuk baru dari self (subjektivitas), yakni otonomitas, kemandirian. Pemikiran demikian dengan telak menunjuk pada tujuan Pencerahan. Dengan kata lain, ketika pemikiran mitologis disamakan dengan ketidakdewasaan, maka otonomitas dan kemandirian manusia menandaskan kedewasaan. Akhirnya, kedewasaan berarti kebahagiaan. Pernyataan terakhir sangatlah penting mengingat Freud sebenarnya juga masih terkena imbas tujuan Pencerahan. Di satu sisi, Freud adalah tokoh yang masih masuk dalam Pencerahan, tapi di sisi lain titik pijak pemikirannya justru berbeda dari Pencerahan (yakni Akal Budi).

Nah, bagi Adorno dan Horkheimer, kedewasaan berarti menyiratkan ‘full sense of self’. Apa maksudnya? Pada mulanya, Freud hanya berusaha menganalisa struktur self. Struktur ini terdiri dari dua, yakni Id dan Ego. Tapi, rupanya ia tidak puas. Freud kemudian menyatakan bahwa subjektivitas, yakni self, sebagai sesuatu yang aktif di dalam dunia. Bagaimana wujud keaktifan itu? Freud menyebutnya sebagai instink (desire, dorongan). Menurut Freud, instink ini, baik Id dan Ego, masing-masing memiliki tujuan. Jika Id mencari kesenangan, Ego justru mencari cara mempertahankan diri. Ringkasnya, cara untuk mencapai tujuan inilah yang menuntun dan mempengaruhi pada cara bagaimana Self itu mendapatkan pengetahuan yang berguna bagi dirinya.

Melalui analisa terhadap cerita Odysseus, Adorno dan Horkheimer melihat bahwa perkembangan filsafat Pencerahan rupanya mulai pelan-pelan menutup diri terhadap realitas luar dan makna yang terkandung di dalamnya. Ini persis seperti ketika Odysseus dan pasukannya menutup diri terhadap dendang lagu Siren yang sangat indah dan memikat (dalam mitologi Yunani, Siren digambarkan berbentuk separuh burung dan separuh manusia). Tindakan menutup telinga ini jelas ada harganya. Keselamatan untuk pulang sampai ke kampung halaman harus dibayar dengan dan melalui usaha mempertahankan diri (Ego) dari realitas luar yang bisa mengancam keselamatan tersebut. Dan parahnya lagi, tindakan ini menghilangkan daya imaginasi manusia atas realitas. Manusia mulai dipermiskin. Mengapa? Karena bagi Adorno dan Horkheier, Odysseus tidak mampu (dan tidak mau) menyelami keindahan dan makna musik.

Arti imajinasi begitu sangat penting di sini. Mengapa? Imaginasi menekankan pengalaman. Ketika pengalaman akan keindahan musik itu tidak diterima, maka makna keindahan tersebut juga akan hilang. Begitu jugalah yang terjadi dengan semangat Pencerahan. Untuk mencapai tujuannya, Subjek Pencerahan harus mengontrol, menata, mengatur Objek (pulang ke kampung halaman) dan orang lain (para pendayug perahu serta teman-teman Odysseus). Dengan kata lain, Subjek Pencerahan melihat dunia ini dalam bentuk INSTRUMENTAL.[2] Akibatnya, Subjek Pencerahan mengorbanan kesenangan sensualitas. Subjek kehilangan makna dunia ini sebagai tempat yang penuh arti. Atas analisa terhadap cerita Odysseus, Adorno dan Horkheimer melihat kemunduran Pencerahan mulai dari kegagalan untuk mencapai tujuan internalnya sendiri, yakni MATURITY (Kedewasaan).

Ketika relasi dengan realitas luar menjadi lenyap, usaha Id untuk mencapai tujuan jelas dari sendirinya lenyap. Akibatnya Self terpecah. Jika Ego masih berelasi dengan dunia luar, maka Id – untuk memuaskan hasrat dan mencapai tujuannya – menciptakan tujuan ilusif bagi dirinya sendiri (bandingkan gagasan Feurbach tentang Tuhan). Inilah tahap ketika Id justru berbalik kembali ke tahap narsistik, masa kekanak-kanakan. Dengan kata lain, desakan Id ini justru membuat kemunduran bagi Self. Demikian jugalah filsafat Pencerahan.

Adorno dan Horkheimer menunjuk kemunduran Pencerahan dengan peristiwa di mana Odysseus dan pasukannya mendarat di sebuah pulau dan situ ada tanaman yang kemudian menyebabkan beberapa anak buah Odysseus adiktif dan tidak mau pulang ke kampung halamannya (dalam bahasa Inggris disebut Lotus-Eaters). Yang menjadi persoalan Adorno dan Horkheimer adalah lantaran sifat adiktif-nya, tanaman ini justru tidak memiliki isi realitas di dalam dirinya. Tanaman ini justru membuat anak buah Odysseus terhanyut dan tenggelam oleh ilusi yang mereka ciptakan sendiri akibat memakan tanaman itu. Ilusi dari tanaman itu pada dasarnya menegaskan kesenangan yang justru terpisah atau tidak ada hubungan dengan REALITAS. Kesenangan yang muncul di sini pada dasarnya hasil dari Id itu sendiri. Bagi Adorno dan Hokheimer, gambaran Lotus/tanaman itu tampak dalam kedok/topeng kebudayaan Industri. Kebudayaan Industri dengan kata lain mengungkapkan ketidakdewasaan. Ketika manusia terputus dari realitas, saat itulah manusia mundur ke dalam situasi mitos.

Lebih lanjut, Adorno dan Horkheimer menyatakan bahwa ilusi yang diciptakan oleh Id telah menggantikan bukan saja isi realitas, tapi juga makna substantif-nya. Ini adalah kemunduran filsafat Pencerahan yang sangat parah bagi Adorno dan Horkheimer. Tapi, tahap kemunduran ini belumlah berakhir? Kok bisa…

Masih ada sebagian struktur Subjek yang berelasi dengan realitas (tapi dengan cara instrumental), yakni Ego. Hasil dari relasi Ego dengan realitas ini menciptakan tujuan instrumen, yakni dorongan Id itu (akhirnya) terpenuhi. Atau dengan kata lain, Ego memberikan pengetahuan, logika, teknologi kepada Id sebagai Objek kepuasaan. Ini berakibat bahwa apa yang bersifat instrumental (instrumentalitas) itu lantas menjadi sumber Kesenangan (bagi Id). Struktur Subjek, i.e: Id, bukan saja tidak mampu lagi menghasilkan ilusinya sendiri, Id bahkan hanya bersandar pada bagaimana Ego itu sendiri berelasi dengan realitas. Karena itu, seluruh penjelasan dari Id sungguh-sungguh bersifat instrumental semata. Filsafat Pencerahan MEREDUKSI semua pengetahuan menjadi semata INSTRUMENTAL. Pencerahan adalah Filsafat yang menyamakan kebenaran dengan semata Sistematika (Prosedur) Ilmiah. Pencerahan lantas menjadi satu dari sekian banyak penjelasan terhadap dunia sebagai KESELURUHAN atau bahkan tidak dapat dijelaskan sama sekali (MITOS).

Dengan demikian, struktur Self yang melambangkan filsafat Pencerahan ternyata dalam perjalanannya semakin terkungkung di dalam tujuan ilusi-instrumental yang dimunculkan oleh ketakutannya (Self itu sendiri) terhadap Yang Lain (the Other). Tujuan Pencerahan, yakni Kedewasaan, ternyata tidak dapat dibangun dari dan oleh Self/Ich/AKu itu sendiri. Peristiwa NAZI merupakan salah satu contoh di mana kehadiran Yang Lain ditolak dan menggantikannya dengan ilusi Führer Hitler yang paranoid.

 


[1] Lih. Yvonne Sherratt. Adorno’s Positive Dialectic. Cambridge University Press: Cambridge, 2002. Hal 71-90.

[2] Pemahaman tentang pengetahuan Instrumental harus dimengerti dengan baik di sini. Pengetahuan hanya berkaitan dengan dorongan Ego, bukan Id. Sementara itu, dorongan Id justru dapat menentukan makna bagi pemenuhan kebutuhan dorongannya. Atau dengan kata lain, realitas hanya dapat memiliki makna melalui pemenuhan kepuasaan – nya Id.